"..Mereka mahasiswa kau tak sudi lagi mendengarnya, kini casingmu mulai berganti PTN-BH, aku tidak setuju jika kau berubah.." Harus kemana lagi ku utarakan segala resah yang menghinggapi pikiran, belajarpun tak fokus, ditambah lagi makanpun susah, sering ku bertemu denganmu membahas permasalahan ini, namun kamu tetap selalu yakin dengan keputusan argumenmu tak pernah memihak kepadaku justru kamu lebih memilihnya ketimbang aku, aku kecewa bahkan kamu tak mendengarkanku, hingga sering ku harus berteriak-teriak mengatakan kepadamu aku tidak setuju dan bahkan dengan tegas menolak statusmu yang kini akan berubah, mereka mahasiswa kau tak sudi lagi mendengarnya, kini casingmu mulai berganti PTN-BH, aku tidak setuju jika kau berubah, aKu bahkan tidak menginginkan kamu berubah, aku lebih memilihmu yang dulu tahu tidak kenapa?, merah mebuat kami berani menentang segala bentuk ketidakadilan ini, merah ini selalu membuat kami semangat untuk berjuang, jangan tanyakan kami adalah seorang provokator, aku bahkan lebih dari sekedar itu, tahu tidak aku sangat mencitaimu almamater merahku UNIVERSITAS HASANUDDIN jikalau darah harus menetes maka biarlah menyatu dalam almamater sebagai jubahku, namun jikalau tubuh harus berjalan tertatih maka biarlah tanah, matahari, dan debu menjadi saksi pembuktian, dengarkanlah surat cintaku padamu universitas hasanuddin.
Dulu
2012 aku selalu yakin denganmu yang akan mampu membuka cakrawala berpikirku,
menjadikanku mampu mengoptimalkan segenap potensi kecerdasanku, melakukan
kegiatan-kegiatan menarik pengembangan soft skill, menyediakan wadah
pengebamngan pengetahuan, dan menjadi tempat lahirnya generasi-generasi
pembaharu, namun kini kau telah berubah menjadi PTN-BH bahkan sifatmu yang
spesial kamu sebut otonom akademik dan nonakademik lantas kini kamu telah
memenjarahkanku, apa yang bisa aku perbuat bahkan segalanya kamu urusi, lantas
kini potensi kecerdasanku meliputi pengetahuan, emosional, dan psikomotorik
kini kamu batasi. bagaimana bisa ku terlahir menjadi seorang pemimpin pembaharu
jika jantung dan hatiku telah kau penjarakan, kini kamu mulai meninggalkanku
tanpa memperdulikan sikapku lagi.
Jika pada masa penjajahan hak asasi hidup
telah ditindas, namun dengan semangat pembebasan lebih baik mati dalam
kehidupan daripada hidup dalam penjajahan dan penindasan, hingga zaman saat itu
mulai bergerak disebutkan oleh Takashi Siraishi 1912-1926, semua elemen bangkit
hingga kemudian kemerdekaan Indonesia tercapai sebagai kado hidup selanjutnya,
aku mengganggap penindasan dan ketidakadilan itu tidak akan terjadi lagi karena
kamu adalah pemimpinnya orde lama adalah sebutannya, namun tidak justru kamu
juga seperti itu, hingga aku sepakat untuk menjatuhkanmu, kamu terjatuh dengan
suara kesedihan dan kebahagian, karena telah manghadirkan bangsa ini, namun orde
baru adalah pelanjutnya tapi kebahagiaan itu sirna, masa pembungkaman idealitas,
bahkan hak asasi pengeatahuan untuk bersua terlarang, namun dengan kesadaran
kritis seluruh masyarakat, mahasiswa, buruh, petani, dan kelompok masyarakat
lainnya mampu membuatmu mengerti dan memahami perasaan kami bahwa kami juga
ingin hidup layak, kami juga ingin bahagia, dan kami ingin hidup tanpa ada
tindakan pembungkaman idealitas, karena urusan moral biarkanlah kami cari, masa
1998 reformasi bangsa berharap cita-cita luhur bangsa ini terwujud, namun sejak
18 tahun reformasi casing bangsa telah sirna dimakan rayap namun antek-antek
penindas masih hidup didalamnya. BPS RI 2015 dilaporkan jumlah penduduk
indonesia +/252.370.792 orang, pengangguran 7.560.000.000 orang dan tingkat
inflasi 3,35% dan jumlah pengangguran terdidik Indonesia 2015 1,05 juta orang
atau 13,94% dari total 7,56 juta orang.
Almamater
merah itu hanyalah sercuil permasalahan bangsa ini, yang seharusnya engkau
hadir sebagai solusi atas ketimpangan yang terjadi namun justru engkaupun hadir
menambah permasalahan kami, kini engkau komersialisasikan pendidikan,
neoliberalisme menjadi peganganmu tujuan bukan lagi mencerdaskan kehidupan
bangsa namun kamu justru mencotohkan kepada kami bahwa segalanya hanya uang dan
uang, pendidikan takkan maju tanpa ada uang, kini asetmu juga kau naikkan perut
menangis, keluarga pusing, mahasiwa mengemis. Kau bilang asetmu kini ada 3
triliun, harga aset pemasukan 600 juta, kamu bagi sistem SPP menjadi uang
kuliah tunggal namun ternyata bukan hanya tunggal tapi duanya harus ikut, ruang
masyarakat ilmu harus dibudidayakan bukan sepihak menskorsing, menutup kegiatan
mahasiswa atas nama kekuasaan, bukan tak pernah pengetahuan itu dibungkam
karena kita adalah masyarakat ilmiah seyogianya junjunglahg tinggi ilmu itu
bukan hanya justru memperjual belikan pendidikan kayak dagangan, memang saat
ini kamu belum sepenuhnya berubah status namun dengarkannlah curahan hatiku aku
tetap menginnginkanmu unhas menjadi Badan Layanan Umum, namun jika kau tetap
pergi maka kamipun akan tetap berdiri disini bersama almamater merah untuk
menarikmu kembali kejalan yang benar, dan sekalipun konfrontasi harus dilalui
bahkan darah, tanah, keringat, dan ucapan akan menjadi saksi penolakannku
terhadapmu. Semoga Tuhan, merahmati.
Salam
kebebasan berpikir
Pendidikan
adalah pencerdasan
bukan
pendidikan adalah dagangan.
CAMKAN
BAIK-BAIK.
Mahasiswa
Unhas yang selalu memikirkanmu.
>Gedung rektorat Unhas via https://www.instagram.com/nini_nhi/
>Gedung rektorat Unhas via https://www.instagram.com/nini_nhi/

COMMENTS